Thursday, January 31, 2013

Adek Naya

Sepulang dari rumah sakit, disambut anak bayi yang ngomong bisik-bisik.
"Ssssst.. Mama jangan belisik. Kici adeknya Aya lagi bobok."

-________________-"

Pernah juga:
M: "Kak Aya i love you"
N:"Mama afwuuuu"
M:"kak Aya i miss you"
N:"Mama asyuuu"

:)))))))))

Afwu kakak Ayaaaaa:*

Wednesday, January 30, 2013

Naya's Artwork

Bayi 21 bulan berjudul Naya ini lagi suka-sukanya mewarnai dan menggambar. Terkadang Meta pinjemin iPad yang ada aplikasi mewarnainya, udah deh heboh sendiri dia di depan iPad.
Ini salah satu hasil mewarnainya Naya:D

Not bad-lah:)

Anyway, rada sedikit engga nyambung sama judul nih ya. Kebetulan inget beberapa celotehan Naya yang pengen didokumentasikan di blog hehe.

Kemarin waktu Meta mau berangkat ke rumah sakit, terjadilah dialog ini.
Meta : "Kak, mama ke rumah sakit dulu ya. Kakak mau dibawain apa nanti sama mama?"
Naya: "Bayem, ma."
Meta: "Ha? Bayem? Balon maksudnya?"
Naya: "Bayem ma, bukan bayon."
Meta: "Oh, oke. Terus apalagi?" *bingung entah siapa yang ngajarin*
Naya: "Tomat, cabe, worteng-wortel,Red-,kecap cama bumbu.
Meta: "Buat apa kak?"
Naya: "Cayur asem ma. Enyak cekayi"
:)))))))))))))))

Lain waktu. Pagi-pagi sekali sudah teriak-teriak. Ternyata "ngobrol" sama koko tetangga depan rumah(5yo) dari balik pagar rumah masing-masing.
Koko: "Nayaaaaaa, enak engga puddingnya?" (Waktu Naya sakit, koko ini datang membawa pudding).
Naya: "Kooo, enyak cekayi."
Koko: "Naya sudah sembuh?"
Naya: "Sudah ko. Engga (minum) obat lagi."
Koko: "Naya nanti sekolah ya?"
Naya: "Engga ko. Cekolahnya tutup. Ke mol ajaaaaa"

Emak yang dengerin--> antara ngakak sama gemes.

Oh ya ngomong-ngomong soal pudding, waktu Naya sakit kemarin, kami banyak sekali kedatangan tetangga yang menengok. Semuanya heran kenapa Naya engga jalan-jalan sore. Ada yang membawakan pudding, buah sampai roti kesukaan Naya. Wah emaknya kiri-kanan aja engga hapal padahal rumah siapa:))
Terimakasih ya tetanggaaaa!:)


Tuesday, January 29, 2013

Penyakit Musim Penghujan

Ini tulisan saya buat web Ayahbunda yang bisa juga dibaca disini.

 *

Saat ini, Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Di Surabaya, kota saya tinggal, hujan turun hampir setiap hari dengan derasnya. Di Bandung, kampung halaman saya, menurut keluarga juga diguyur hujan terus setiap hari. Bahkan di Jakarta, sebagaimana yang kita ketahui bersama, curah hujan yang tinggi ditambah ketidakseimbangan ekosistem menyebabkan banjir.
Sebagai seorang ibu, saya sangat khawatir setiap musim penghujan datang karena resiko terjadinya penyakit pada anak sangat tinggi.  

Kenapa?
Hujan akan menimbulkan genangan-genangan air baru. Tempat ini tentunya potensial sekali untuk hidup nyamuk aedes aegypti yang dikenal sebagai penyebab demam berdarah.

Hujan dapat menyebabkan bakteri dan parasit dari septic tank dan kotoran hewan terangkat lalu hanyut, mencemari sumber air bersih. Jangan heran kalau
berbagai penyakit lain yang disebabkan infeksi virus maupun bakteri seperti influenza, pusing, diare, disentri biasanya  meningkat.

Di kawasan perumahan tempat saya tinggal, banyak sekali anak yang terkena sakit musim penghujan ini. Sebut saja Ari, anak berusia 6 tahun yang tinggal di depan rumah saya. Ari baru saja terkena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Bukan itu saja, rupanya cuaca dingin juga menyebabkan asmanya kambuh. Jadilah selama bulan ini, Ari sudah bolak/i ke rumah sakit.

Alhamdulillah Naya sehat walafiat. Bahkan ketika seisi rumah terkena demam berdarah, hanya Naya yang aman. Walaupun begitu, tetap saja saya parno. Takut sekali ada virus/bakteri yang dekat-dekat Naya.

Lalu, apakah yang bisa kita lakukan untuk mencegah kita dan anak kita terkena penyakit-penyakit musim hujan ini?

1. Cuci tangan.
Minimal sebelum sarapan, sebelum makan siang, sebelum makan malam, setelah buang air dan saat mandi. Penelitian menyebutkan kasus diare pada anak menurun drastis saat responden mencuci tangan menggunakan sabun.
By the way, sudah tahu kan bagaimana caranya mencuci tangan yang benar?
Kalau belum, saya sertakan gambarnya ya.


2. Lindungi diri dari nyamuk.
Caranya? Bisa dengan obat nyamuk atau sesederhana menggunakan kelambu saat tidur.

3. Jaga kebersihan lingkungan.
Pastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah. Selalu buang sampah pada tempatnya dan bersihkan selokan secara teratur. Jangan lupa untuk menutup bak penampungan air agar tidak ditinggali jentik-jentik nyamuk.

4. Konsumsi makanan yang bergizi dan seimbang.
Nutrisi yang baik dapat meningkatkan daya tahan imun tubuh terhadap penyakit.

5. Hindari penularan dengan masker.
Bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit, mintalah anggota keluarga yang lain menggunakan masker hidung untuk mencegah penularan.

Setidaknya ada 5 hal dasar yang sudah saya share untuk mencegah penyakit di musim hujan ini. Semoga ayah, bunda dan anak-anak semua sehat selalu ya!

Sunday, January 27, 2013

Naya 21-mo

Maafkan keterlambatan update bayi berusia 21 bulan (atau 19 bulan usia koreksi) ini. Maklum, abis kena -banyak- musibah cyiiin;)

Anyway, where to start yaaa. Mulai dari kebawelan Naya yang tiada tara saja yaa.
Jadi, di umurnya yang ke 21 bulan ini, Naya tambah bawel. Segala macem ditanyain. "Apa itu ma?" "Kenapa sih ma?" "Ada apa ma?" "Gimana ma?", "Kapan itu ma?" dsb dsb. Dan pertanyaannya tidak bisa berhenti di satu titik. Pertanyaan yang satu akan mengundang pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Engga ada abisnya deh. Pengen tauuuuuu aja. Kalau lihat ibunya lagi nelpon misalnya, siap-siap deh dibombardir Naya. "Siapa tu ma? Ada apa? Kenapa nelpon ma?". Memang bakat kepo menurun banyak sepertinya:))

Sudah mengenal kosakata dalam bahasa Inggris. Jadi kalau dia lihat kucing, dia akan bilang "Its a cat. Itu kucing, ma. Pus. Meong". Kalau lihat pisang, dia akan bilang "Its banana. Pisang. Enyak."
Dan segala macam benda di rumah yang dia tunjuklah. Engga berhenti-berhenti:p

Setelah lancar 1-10 dan one to ten sejak beberapa bulan yang lalu, sekarang Naya lagi suka melatih alfabet. Sudah hapal A sampai Z, meskipun selalu terbalik antara M dan W, B dan D, atau P dan Q. Woohooo, im a proud mommy!

Lagi hobi minta adik. Begini kira-kira omongannya:
N: "Ma. ini wang cibu. Buat beli adik ya!' *sambil ngeluarin uang monopoli dari dompet pocoyonya*
M: "Ha? Apa kak? Adik apa?" *bingung plus panik*:))
N: "Iya, adik bayi. Cowok, satu aja ma!'
M: " Beli dimana?" *sok santai*
N: "Di mol. Sama beli bubung -bubur-Red- ayam ya."

Lain kesempatan, Naya masuk kamar membawa majalah Ayahbunda. Halaman yang dibuka adalah bagian "Bayi lahir bulan ini".
N: "Ma, Aya mau adik yang ini." *nunjuk salah satu foto bayi*
M: "Buat apa kak?"
N: "Buat Aya. Adiknya Aya."
M: "Kenapa harus yang itu? Yang ini aja yaa. *nunjuk foto lain*
N: "Engga mau. Mau yang ini. *Konsisten milih foto sebelumnya.*
M: "Kenapa harus yang itu?"
N: "Melek. Aya engga mau adik meyem. Bobo teyus."
-Memang ternyata satu halaman itu, foto bayi yang lain merem semua. Cuma ada satu bayi yang melek-:))
M: "Kenapa engga mau yang merem?"
N: "Engga bisa diajak ciiiiiissssss." ("Engga bisa diajak foto")
M: :))))))))))))

Lagi suka sekali dengan suasana ulangtahun. Barang di rumah minta dibungkus rapi pakai kertas kado, kemudian dia pura-pura buka sambil nyanyi "Hepi besdey tuyuuuuu", minta dibelikan roti yang pura-puranya 'Kue ulang tahun Aya', sambil minta tiup lilin. Hahaha lucu yaaa;)

Lagi suka-sukanya menggambar dan mewarnai. Nanti kapan-kapan Meta foto ya gambarnya. Naya suka banget gambar kupu-kupu. Engga berbentuk kupu-kupu sih, tapi menurutnya itu kupu-kupu. Errrr baiklah:p Bisa mewarnai juga pakai aplikasi ipad.

Makin sadar kamera. Kadang minta dipakaikan baju bagus, terus action sendiri sambil minta difoto. "Ma ayo dong cis Ayaaaa. Aya gayaaa!" gitu katanya. Banci foto pun ikut menular padanya:p
Centilnya minta ampun-_-"

Apalagi yaaa? Nanti kalau inget Meta update lagi deh;)
Sehat terus ya kakak Ayanya mamaaaa:*

Musibah Awal Tahun

Masih inget kan cerita saya waktu kena demam berdarah?
Nah 'bencana' yang saya alami ternyata belum cukup sampai disitu. Saat saya opname karena demam berdarah, selang 2 hari kemudian, ART saya pun harus diopname di rumah sakit yang sama, masih gegara si nyamuk aedes aegypti. Bukan itu saja, babysitter yang biasa mengasuh Naya pun harus opname juga di kampung halaman karena sudah terlanjur pulang.

Lalu bagaimana kabar Naya?

Karena seisi rumah diopname, Naya saya boyong ke rumah sakit. Sebetulnya saya khawatir juga dengan infeksi nosokomial yang bisa terjadi pada anak sekecil Naya yang masih rentan daya tahan tubuhnya. Tapi saya benar-benar engga punya pilihan lain.Selama opname, saya masih menggendong Naya kemana-mana, termasuk di tempat tidur. Bayangkan deh, di bed pasien, saya tidur dengan Naya ikut tidur di dada saya. Karena berada di tempat baru, Naya rewel dan menempel terus pada saya. Masih sempat-sempatnya minta dibacakan buku cerita, dinyanyikan, bahkan disuapi.
Tangan saya. Keren kan?:p

Akhirnya setelah 2 hari opname, walaupun badan masih lemaaaaas sekali, saya meminta pulang paksa dengan janji akan istirahat di rumah -padahal boro-boro bisa:p- demi bisa mengasuh Naya. Mama saya sebenarnya sudah berencana datang jauh-jauh dari Bandung. Tapi karena cuaca, flightnya bolak/i dicancel, mau pergi dari Jakarta juga engga mungkin karena waktu itu Jakarta sedang dilanda banjir. Walaupun begitu, selang beberapa hari setelah saya sakit, maama saya langsung terbang ke Surabaya walaupun kondisinya sendiri sedang engga fit. Ahhh i owe you so muuuuuuuuchhhh mom! :*

Karena saya kesulitan tanpa ada orang yang bisa membantu, saya mencari warnen alias ART harian. Siapa saja deh, asal ada orang di rumah yang bisa menemani saya dan Naya. Eh baruuuu 2 hari bekerja, jreeeeng, ngamar lagilah ART warnenan ini huhuhuhu. Sama, gara-gara demam berdarah! -Damn you aedes aegypti!-

Rasanya saya capeeeeek sekali. Mata saya sudah seperti zombie, saya masih pusing berat, belakang mata saya pun masih sakit,  engga pernah makan, masih harus memandikan-menggendong-menyuapi-memasak walaupun seadanya untuk Naya-menidurkan- pokoknya semua deh. Badan saya seperti habis dihantam truk, selain karena memang masih dalam proses recovery demam berdarah, saya engga bisa tidur sama sekali karena Naya rewel.  Saya juga masih harus masuk ke rumah sakit. Untungnya selama bulan ini stase yang saya jalani lumayan santai. Saya engga bisa membayangkan deh kalau engga. Selama saya di rumah sakit, Naya saya titipkan ke mama.

Setiap hari saya merasa stress dan depresi. Ingin sekali ngamuk, tapi engga tahu juga mau ngamuk ke siapa. Kalau nyamuk aedes aegypti bisa saya amukin, abis tuh pasti riwayatnya:p Inginnya menangis terus, tapi kok ya engga ada gunanya. Pada akhirnya, selama beberapa hari itu saya emosi tingkat tinggi, rasanya ada dua tanduk nongol melulu di kepala saya. Bayangkan, Naya kan susah banget tidur nih gegara sakit, harus digendong diayun-ayun dulu padahal biasanya engga begitu, rewel pula merengek terus. Saat sudah tertidur setelah saya ayun-ayun hampir sejam, eh tetiba ada telpon rumah bunyi yang tentu saja membangunkan Naya lagi dengan gampangnya. Yang menyebalkan, ternyata yang menelpon salah sambung! Menurut looooo? Langsung saya omeli habis tu orang. Hahahaha, maap ya tanteh:p

Saya juga rajin 'meneror' suami yang sedang dinas nun jauh disana. Sebenarnya bukan berniat meneror sih, saya cuma ingin curhat karena merasa berat menjalani semuanya sendirian. Tapi kayanya curhat saya berubah jadi teror karena saya sedang penuh emosi deh. Ya maap:p

Oh ya, satu lagi, saya SEBAAAAAAAAL sekali setiap ada yang bertanya pada saya "Lho, suaminya mana? Engga bisa pulang dulu?" atau "Yah, suaminya disuruh pulang dululah, masa lebih mentingin istri orang?" atau "Engga kasian anakmu dibawa ke rumah sakit?" atau komentar sejenis. Duh dengerin deh, KALAU SITU GA BISA BANTUIN YOU'D BETTER SHUT UP.
Aslik, mungkin maksudnya cuma basa/i tapi bikin orang tambah depresi plus emosi tau engga.
*usep2 tanduk di kepala*

Anyway, saya masih bersyukur karena di saat seisi rumah sakit semua, alhamdulillah Naya sehat walafiat. Sampai.. beberapa hari yang lalu saat akan saya tinggal jaga, Naya demam tinggi. Hampir mencapai 40 derajat. Ini bukan demam pertama Naya sih, memang setiap akan tumbuh gigi baru, Naya akan demam tinggi sekali. Tapi karena seisi rumah dan tetangga-tetangga saya baru saja diopname gegara demam berdarah, saya panik. Saya khawatir sekali Naya terkena dengue. Duh.

Naya sendiri masih aktif seperti biasa, masih menari-nari, bernyanyi, loncat-loncat, lari-lari, tapi ya itu, rewel sekali. Kalau mengikuti logika sih, saya seharusnya membawa Naya ke rumah sakit untuk diperiksakan darah. FYI, untuk pemeriksaan spesifik infeksi Dengue bisa diketahui dengan pemeriksaan NS1 sejak hari pertama. Tapi saya merasa kasihan juga kalau melihat Naya dicek darah setiap hari. Apalagi setelah ikut saya diopname, Naya kelihatannya trauma sekali melihat rumah sakit. Jadilah saya mengambil keputusan untuk merawat Naya sendiri di rumah dengan pengamatan intensif. (Disclaimer! JANGAN ditiru yaaa. Kecuali kalau anda dokter anak:p)

Saat panas tinggi dan rewel, Naya bilang ke saya: "Mama, gigi Aya tumbuh bayu. Satit cekayi."
Saya lihat gusinya memang bengkak pertanda ada gigi baru yang akan tumbuh. Dalam hati saya berharap tak henti-hentinya semoga panasnya Naya memang karena gigi yang akan tumbuh.

Setiap jam, saya ukur nadi dan suhu tubuh Naya. Saya pastikan Naya mau makan dan minum yang banyak. Engga seperti sebelumnya, supaya Naya mau makan banyak, saya bolehkan dia makan apapun yang biasanya engga pernah saya ijinkan. Saya ijinkan Naya minum teh kotak, makan kerupuk, es krim, apa sajalah yang dia mau. Saya sendiri yang menyuapi Naya dan menghitung kalori yang masuk. Saya ukur benar cairan yang masuk dan keluar, kemudian saya hitung balans cairannya. Saya yang meminumkan obat antipiretik, bahkan setiap jam saya periksa apakah ada pembesaran liver pada Naya. Saya juga sudah menyiapkan infus set sehingga kalau ada apa-apa, saya akan menginfus sendiri Naya.

Hari ke-4, demam Naya turun. Saya senang sekaligus juga waspada. Pada infeksi dengue, turunnya demam harus sangat diwaspadai karena ini adalah pertanda masa kritis pada anak. Karena melihat setelah panas turun Naya jadi aktif kembali, makan minumnya banyak, saya yakin bahwa alhamdulillah its not dengue. Walaupun begitu, saya tetap berhati-hati. Saya masih mengobservasi Naya secara intensif, sampai Naya hapal sendiri, memberikan pergelangan tangannya kepada saya sambil bilang "Ini ma, peyiksa nadi Aya." :)))

Hari ke-6, Naya sudah sehat walafiat, dan karena sudah melewati masa kritis infeksi dengue, saya agak tenang. Karena Naya menagih terus "Ayo ma, ke moooooool", saya ajak Naya ke mal dan dia happy banget, senyum-senyum, tertawa-tawa sepanjang hari. Dasar anak mal:p

Engga kelihatan sakit kan?

Sampai hari ini, ART dan babysitter saya masih bebas tugas. Saya mencari warnen lain lagi yang lumayan bisa sedikit membantu di rumah. Untung ada mama saya yang selalu bisa diandalkan. Cant imagine my life without her;) Saya sudah engga emosian karena rasanya sih saya sudah lumayan sehat, Naya juga alhamdulillah sehat. 

Ada beberapa hikmah yang bisa saya ambil.
Yang pertama, alhamdulillah berat saya turun 3 kg . HAHAHA. Engga perlu ribet-ribet diet ya:p
Yang kedua, saya sadar karena kesibukan, kurang begitu memperhatikan kebersihan rumah.Mulai hari ini, saya akan menerapkan OCD saya ke rumah sama seperti OCD saya ke hal lain:p
Yang ketiga, saya sudah memantapkan hati untuk punya anak lagi, adik buat Naya. Lah? Kok jauh bener hikmahnya?:p Saya engga mau kelak kalau Naya sudah besar terus sakit atau terlibat masalah, kebingungan sendiri. Kalau ada saudara kan pasti enak, bisa share, bisa saling membantu. Tapi nantiiiii ya nak, tunggu beberapa tahun lagi;)
Yang keempat, sebagai semi-single-parent (karena suami sibuk melulu dan seringkali ada entah nun jauh dimana), saya harus belajar lebih mandiri lagi. Mungkin kalau mandiri secara fisiknya sudah ya, secara saya sudah hidup berjauhan dari orangtua dan benar-benar on my own sejak kelas 1 SMA, tapi mandiri secara psikis yang belum. Saya akan mulai belajar deh, demi kebaikan semua pihak:D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...