Friday, February 10, 2012

Imunisasi

Udah hampir beberapa minggu ini Meta ada di divisi Tropik Infeksi. Jelas, setiap hari berkutat dengan anak-anak yang kena infeksi macem-macem. Mulai dari typhoid alias tipes, Dengue atau orang awam bilang demam berdarah, sampe difteri dan tetanus.

Sedih rasanya setiap meriksa pasien dengan difteri atau tetanus, nanya " Udah pernah diimunisasi bu/pak?" Jawaban orang tua mereka selalu " Engga pernah dok, kasihan anaknya kalo disuntik nanti kesakitan terus nangis". Bahkan ada juga yang engga tau sama sekali apa itu imunisasi atau kenapa imunisasi itu penting.

Kebanyakan penderita tetanus atau difteri emang kalangan menengah ke bawah yang uneducated. Boro-boro mikirin imunisasi, bisa makan tiap hari aja udah Alhamdulillah. Biarpun pemerintah menggalakkan program gratis imunisasi wajib, tetap aja, namanya uneducated yaa, banyak juga yang engga peduli.

Menurut Meta, faktor ketidaktahuan masih bisa dimaklumilah ya. Memang engga tahu atau engga ngerti kok. Wajar.

Yang bikin Meta rada gedek, ada lho seorang dokter (catet ya! DOKTER) yang getol sekali menyebarkan gerakan anti imunisasi ini kemana-mana. Bahkan sampe ada cara memohon ampun juga untuk orangtua yang terlanjur mengimunisasi anaknya.
Bawa-bawa ayat suci AlQuran, dan juga bawa nama orang dengan gelar-panjang-entah-apa-yang-entah-eksis-dimana.

Alesannya banyak. Ada yang bilang vaksin itu haram, tidak halal, memasukkan DNA orang yang engga kita kenal ke dalam tubuh anak. Ada juga yang bilang bahan-bahan kimia dalam vaksin berbahaya, bisa bikin autis. Ada lagi yang bilang vaksin engga ada gunanya.

Terlepas dari itu semua, Meta sama sekali engga keberatan seandainya oknum tadi anti vaksin dan engga mengimunisasi anak-anaknya. Monggo lhoo, anak-anak situ kok. Tapi please dong, jangan menggunakan gelar dokternya untuk mengedukasi orangtua (yang Meta yakin pasti orang awam) untuk ikut tidak memvaksin anak-anaknya.

Mungkin beliau belum tahu ya berapa anak yang meninggal dunia gegara engga pernah imunisasi. Coba deh main-main ke RS Meta sini, biar kebuka mata hatinya.

My current obsession: Mengajak anak-anak orang yang antivaksin ke ruang isolasi Tropik Infeksi. *dududududu* Berani?:p

4 comments:

Kirana said...

Salam kenal :)
Humm aku ngga yakin lho biar kata diajak touring keliling ruang isolasi Trop-inf, terus jadi 'insyaf'. Mereka akan selalu punya alasan lain. Misal, kan ngga ASIX, kan ngga ... (put any islamic treatment + suplemen here), dan banyak 'kan ngga' yg lain.
Mungkin baru akan mingkem kalau anaknya sendiri yang kena. Maaf, bukan bermaksud doain, tp gimana pun IMO org2 ini sungguh ngga tanggungjawab ke masyarakat sekitarnya. Dengan ngga vaksinasi, mereka menempatkan anak orang lain jadi beresiko juga, bukan cuma anak sendiri :(.

Betul, semoga hati mereka terbuka. Ngga usah nunggu anak sendiri jd korban :(.

fahmi90 said...

Dokter mana si kak?
Aku kenal dokter yg sejenis kyk gitu. Ceritanya emang dulu pro vaksin, setelah 7 tahun berjalan dia putar arah jadi kontra. Alasannya karena anaknya yg full vaksin kena campak 4 kali, anak satu lagi baru lahir vaksin anti hep b jadi kena penyakitnya sampe koma. Akhirnya dia belajar gitu kak kok bisa udah vaksin tetap kena. Dy bilang, penelitian di US bayi vaksin lebih rentan kena daripada non. trus kalo ga salah juga badan apa gitu di US (CDC kali ya? pokoknya ada disease2nya :D) menyarankan stop ASI, krn antibodi ASI bisa mematikan kuman dalam vaksin jadinya gak berguna vaksinnya.

Yah mungkin, krn anak jd korban orang jadi putar mindset, terbuka hatinya, bisa jadi kontra jadi pro ato sebaliknya.

Sebenernya jadi bingung nih kak untuk anakku nanti bakal gmn :(

Meta Hanindita said...

@mbak kirana: met kenal juga yak:D
iya miris rasanya liat asi dijadiin alesan untuk engga imunisasi:(
Semoga mereka segera mendapat hidayah mbal:D

@fahmi:no need to be confused sebenernya:D kalo browsing akan banyak catutan nama orang entah siapa atau lembaga entah apa bilang vaksin itu engga perlu. Masalahnya adalah: apakah mereka-mereka yg disebut itu sahih?:D

imunisasi said...

Imunisasi sudah terbukti selama ini mengurangi angka kejadian terjadinya penyakit berbahaya seperti polio ( yg jaman bahela dulu banyak sekali, sekarang hampir tidak ada yg sakit polio dst).

Mengenai ada anak yg divaksin masih kena penyakit, saya kira banyak faktor yg bisa berperan termasuk penyimpanan vaksin yg salah, penyuntikan yg tidak benar,kondisi antibodi anak sendiri dsbnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...